Belakangan
ini, jumlah pengusaha muda makin banyak. Sayangnya semangat menggebu
anak muda acap kali tak dibarengi dengan perhitungan matang. Salah satu
faktor yang sering membuat "layu sebelum berkembang" adalah kondisi
dan perencanaan keuangan yang serampangan.
Sebenarnya ada beberapa hal yang patut diwaspadai:
Berinvestasi melebihi yang dibutuhkan
Banyak anak muda yang ingin langsung terlihat "wah" pada saat kali
pertama membuka bisnis. Karyawan langsung banyak, sewa kantor di lokasi
yang mahal, furnitur dan perlengkapan kantor yang serba modern. Menurut
Alexa von Tobel, CEO dari LearnVest.com, sebuah perusahaan konsultan keuangan, seharusnya fokus pada produk dan layanan.
Mengurangi biaya-biaya pada bidang yang dianggap bisa diselesaikan sendiri
Anak muda sering kali menggampangkan sesuatu. Bahkan, mereka kadang bisa
menjadi sosok "si tuan tahu segala". Sehingga, ada beberapa hal
penting yang sering dilupakan (baca: dikesampingkan), seperti laporan
keuangan dan pajak. Akibatnya, saat harus membayar pajak usaha, ada
beberapa kondisi yang membuat perusahaan terkena denda. Karena itu,
menurut Eric Johnson, penasihat keuangan dari Signature, sebuah
perencana keuangan, perlu menyewa tenaga ahli untuk mengatasi berbagai
hal semacam ini.
Tidak menggaji diri sendiri
Karena sangat bersemangat, kadang tidak memedulikan apakah kita digaji
atau tidak. Namun, jika kebiasaan ini diteruskan, menurut Diana
Ransom-seorang penulis masalah usaha kecil, bisa memicu kekacauan pada
penempatan uang. Yakni, kadang karena merasa sangat butuh uang, tanpa
disadari, pemilik usaha mengambil uang perusahaan karena selama ini
merasa tidak digaji.
Tidak merencanakan kemungkinan kondisi paling buruk
Menurut Johnson, ada banyak anak muda yang merasa dirinya "anti peluru"
alias tahan badai guncangan yang bisa meruntuhkan usaha. Karena itu,
mereka cenderung tak mempersiapkan diri saat situasi memburuk. Nasihat
Johnson, meski saat muda masih banyak kesempatan untuk memperbaiki
kinerja, tetap siapkan rencana paling buruk sebagai langkah antisipasi.
Mencampurkan aset pribadi dan perusahaan
Anak muda biasanya malas untuk memisahkan aset pribadi dan perusahaan.
Akibatnya, saat terjadi masalah aset pribadi pun bisa ikut hilang,
misalnya, untuk membayar utang. Karena itu, sangat disarankan untuk
memisahkan aset-aset tersebut.
Menggunakan kartu kredit pribadi untuk kepentingan bisnis
Urusan bisnis adalah urusan bisnis, jangan campuradukkan dengan urusan
pribadi. Maka, jika ingin membeli barang atau aset untuk perusahaan,
gunakan uang perusahaan.
Memanfaatkan uang perusahaan melebihi kapasitas
Ada kalanya, saat usaha berjalan seperti harapan nafsu beli
ini dan itu menggelora. Yang seharusnya cukup punya komputer standar
untuk mengetik dan mencetak dokumen, langsung membeli komputer paling
canggih tanpa bisa memaksimalkan kegunaannya. Jika hal ini diteruskan,
akan ada ketimpangan dalam usaha yang bisa merusak potensi keuntungan
membesarkan usaha

Posting Komentar